A. Pengertian Model Pembelajaran
Joyce dan Weil (dalam Rusman: 2010: 133) berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merencanakan bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya.

1. Model Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Nurhadi, 2002).
CTL memungkinkan siswa menghubungkan isi mata pelajaran akademik dengan konteks kehidupan sehari-hari untuk menemukan makna. CTL memperluas konteks pribadi siswa lebih lanjut melalui pemberian pengalaman segar yang akan merangsang otak guna menjalin hubungan baru untuk menemukan makna yang baru (Johnson, 2002). Prinsip pembelajaran kontekstual sebagai berikut.
a. Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) dalam CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas.
b. Menemukan (Inquiry)
Menemukan, merupakan bagian inti dari CTL, melalui upaya menemukan akan memberikan penegasan bahwa pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan-kemampuan lain yang diperlukan bukan merupakan hasil dari mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi merupakan hasil menemukan sendiri.
c. Bertanya (Questioning)
Melaui penerapan bertanya, pembelajaran akan lebih hidup, akan mendorong proses dan hasil pembelajaran yang lebih luas dan mendalam, dan akan lebih banyakditemukan unsur-unsur terkait yang sebelumnya tidak terpikirkan baik oleh guru maupun siswa.
d. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Maksud dari masyarakat belajar adalah membiasakan siswa untuk melakukan kerja sama dan memanfaatkan sumber belajar dari teman-teman belajarnya.

2. Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang ersifat heterogen.
Model Model-Model Pembelajaran Kooperatif.
a. Model Student Teams Achievement Division (STAD)
Model STAD menurut Slavin (2007) merupakan variasi dari pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti. Dalam STAD, siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuan, jenis kelamin, dan sukunya. Guru memberikan pelajaran dan siswa-siswa di dalam kelompok memastikan bahwa semua anggota kelompok menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya semua siswa menjalani kuis perseorangan tentang materi tersebut, dan pada saat itu mereka tidak boleh saling membantu satu sama lain.
b. Model Jigsaw
Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen kecil. Dalam kelompok ini siswa-siswa bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam (a) belajar menjadi ahli dalam subtopic bagiannya, (b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula, setelah itu, siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopic tersebut kepada temannya. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topic secara keseluruhan.
c. Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Secara umum perencanaan pengorganisasian kelas dengan menggunakan teknik kooperatif GI adalah kelompok dibentuk oleh siswa itu sendiri dengan beranggotakan 2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih subtopic dari keseluruhan unit materi (pokok bahasan) yang akan diajarkan, dan kemudian membuat atau menghasilkan laporan kelompok. Selanjutnya setiap kelompok mempresentasikan atau memamerkan laporannya kepada seluruh kelas, untuk berbagi dan saling bertukar informasi temuan mereka (Burns, et al).
d. Model Make a Match (Membuat Pasangan)
Penerapan metode ini dimulai dengan teknik, yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban atau soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokan kartunya diberi poin.
e. Model TGT (Teams Games Tournaments)
Menurut Saco (2006), dalam TGT siswa memainkan permainan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaiatan dengan materi pelajaran. Kadang-kadang dapat juga diselingi dengan pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok (identitas kelompok mereka).
f. Model Struktural
Dalam pembelajaran kooperatif tipe pendekatan structural terdapat enam komponen yaitu struktur dan konstruk yang berkaitan, prinsip-prinsip dasar, pembentukan kelompok dan pembentukan kelas, kelompok, tata kelola dan keterampilan sosial.

3. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)
Boud dan Feletti (1997) mengemukakan bahwa PBM adalah inovasi yang paling signifikan dalam pendidikan. Margetson (1994) mengemukakan bahwa kurikulum PBM membantu untuk meningkatkan perkembangan keterampilan belajar sepanjang hayat dalam pola berpikir yang terbuka, reflektif, kritis dan belajar aktif.
4. Model PAKEM (Partisipatif, Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan)
PAKEM berasal dari konsep bahwa pembelajaran harus berpusat pada anak (student centered learning) dan pembelajaran harus bersifat menyenangkan (learning is fun), agar mereka termotivasi untuk terus belajar sendiri tanpa diperintah dan agar mereka tidak merasa terbebani atau takut. Dengan pelaksanaan pembelajaran PAKEM, diharapkan berkembangnya berbagai macam inovasi kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang bersifat partisipatif, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

5. Model Pembelajaran Lesson Study
Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi, dan melaporkan hasil refleksi kegiatan pembelajarannya.

6. Model Pembelajaran Mandiri
Dalam belajar mandiri, menurut Wedemeyer (1983), peserta didik yang belajar secara mandiri mempunyai kebebasan untuk belajar tanpa harus menghadiri pembelajaran yang diberikan guru atau pendidik di kelas. Tugas guru atau instruktur dalam proses belajar ini ialah menjadi fasilitator, yaitu menjadi orang yang siap memberikan bantuan kepada peserta didik bila diperlukan.
Model-Model pembelajaran Mandiri
a. Model SAVI (SomaticsAuditor Visual Intelektual)
Dave Meier menyajikan suatu sistem lengkap untuk melibatkan kelima indera dan emosi dalam proses belajar yang merupakan cara belajar secara alami yang dikenal dengan model SAVI. Somatis artinya belajar dengan cara bergerak dan berbuat. Auditori, belajar dengan berbicara dan mendengar. Visual, artinya belajar mengamati dan menggambarkan. Intelektual, artinya belajar dengan memecahkan masalah dan menerangkan.
b. Model M-A-S-T-E-R (Mind, Acquire, Search Out, Trigger, Exhibit, Reflect)
Rose dan Nicholl memperkenalkan satu model belajar yang dikenal dengan M-A-S-T-E-R, yaitu para pembelajar mulai menyadari bahwa belajar bukan sesuatu yang dilakukan untuk pembelajar dan hanya pembelajar yang dapat melakukannya.

7. Model Pembelajaran Berbasis Web (E-Learning)
Pembelajaran berbasis web dapat didefinisikan sebagai aplikasi teknologi web dalam dunia pembelajaran untuk sebuah pendidikan. Secara sederhana dikatakn bahwa semua pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan teknologi internet dan selama proses belajar dirasakan terjadi oleh yang mengikutinya, maka kegiatan itu dapat disebut sebagai pembelajaran berbasis web. Kemudian yang ditawarkan oleh teknologi ini adalah kecepatan dan tidak terbatasnya tempat dan waktu untuk mengakses informasi.

8. Model Pembelajaran Tematik
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) model pembelajaran untuk anak tingkat Sekolah Dasar kelas rendah, yaitu kelas 1,2 dan 3 adalah pembelajaran yang dikemas dalam bentuk tema-tema (tematik). Tema merupakan wadah atau wahana untuk mengenalkan berbagai konsep materi kepada anak didik secara menyeluruh. Tematik diberikan dengan maksud menyatukan konten kurikulum dalam unit-unit atau satuan-satuan yang utuh dan membuat pembelajaran lebih terpadu, bermakna dan mudah dipahami oleh siswa SD/MI.

MOTIVASI DAN AKTIVITAS DALAM BELAJAR

Saperiah
Pertanyaan saperiah poin c, yakni mengenai motif objektif dijelaskan bahwa motif objektif itu menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan penipulasi, untuk menaruh minat. Menurut kelompok kami, mengenai motif objektif melakukan eksplorasi itu maksudnya mengeksplorasi diri terhadap objek, contohnya: mengeksplorasi diri pada bidang sastramisalnya membuat puisi. Motif objektif yakni melakukan manipulasi atau meniru gaya orang lain, contohnya mengikuti gaya artis yang dia sukai. Motif objektif untuk menaruh minat maksudnya mendorong diri supaya dapat menguasai sesuatu, contohnya: selalu bersemangat dalam melakukan apapun yang diinginkan.

Nurul       Hidayah
Kami sependapat dengan jawaban saudara kusniati serta kelompok mengenai, Motivasi dan aktivitas dalam kegiatan belajar mengajar itu memang sangat burhubungan karena dengan motivasi belajar yang tinggi maka kita akan mudah menerima atau menangkap pelajaran yang dijelaskan. Motivasi dan aktivitas belajar mengajar tersebut juga mengalami hubungan timbal balik yaitu pada kegiatan belajar mengajar membutuhkan motivasi untuk memicu semangat belajar, jadi motivasi sangat mempengaruhi dalam aktivitas serta hasil belajar.

Siswanto Adi       Saputro
Menanggapi pertanyaan siswanto, motivasi yang akan diberikan kepada siswa sehingga dapat mendorong siswa tersebut menjadi siswa yang bisa dikatakan sebagai siswa yang bisa belajar dengan baik ketika dalam proses pembelajaran yaitu dengan memberi motivasi berupa semangat dan menyarankan mereka ikhlas dalam belajar, agar mereka lebih mudah memahami pelajaran saat kegiatan belajar mengajar.

Abdul Hamid

Faktor yang mempengaruhi perilaku manusia ada 3 komponen yaitu

  1. Komponen afektif

Komponen ini disebut juga komponen emosional dari factor sosiogenis. Yang didalamnya terdiri ddari, (a) Motif sosiogenis (motif ingin tahu, motif kompetensi, motif motif cinta, motif harga diri dan kebutuhan mencari identitas, kebutuhan akan nilai,  kedambaan dan makna kehidupan, kebutuhan akan pemenuhan diri). (b) Sikap, dan (c) Emosi.

  1. Komponen kognitif

Komponen kognitif berkaitan dengan aspek intelektual, yaitu yang diketahui oleh manusia. Komponen kognitif dari factor sosiopsikologis adalah kepercayaan, yakni keyakinan benar atau salah atas sesuatu atas dasar bukti sugesti otoritas, pengalaman atau intuisi.

  1. Komponen konatif

Komponen konatif adalah aspek emosional, berhubungan dengan kebiasaan bertindak. Komponen konatif dalam famtor sosiopsikologis adalah kebiasaan dan kemauan. Kebiasaan adalah aspek perilaku manusia yang menetap, yang berlangsung dan tidak direncanakan.

 

Okta Maria Ulva

Beberapa cara untuk menumbuhkan motivasi dalam belajar yang sesuai dengan aktivitas yang di inginkan adalah sebagai berikut:

  1. Memberi angka

Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa belajar untuk mencapai nilai/angka yang baik. Sehingga siswa hanya mengejar nilai ulangan atau nilai-nilai pada rapor. Bagi para siswa nilai yang baik merupakan motivasi yang kuat.

  1. Hadiah

Hadiah Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi, tetapi tidak selalu demikian karena hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk sesuatu pekerjaan tersebut. Sebagai contoh hadiah yang diberikan untuk gambar terbaik mungkin tidak akan menarik bagi siswa yang tidak memiliki bakat menggambar.

  1. Saingan/kompetisi

atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan, baik individual maupun kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

  1. Ego-involvement

Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Seseorang akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik adalah simbol kebanggaan dan harga diri, begitu juga demikian juga siswa, mereka belajar dengan tekun bisa jadi karena harga diri.

  1. Memberi ulangan

Murid-murid akan giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu, memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi. Tetapi yang harus diingat oleh guru, jangan terlalu sering (misalnya setiap hari) karena bisa membosankan dan bersifat rutinitas. Dalam hal ini guru juga harus terbuka, maksudnya kalau akan ulangan harus diberitahukan kepada siswanya.

  1. Mengetahui hasil

Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka semakin memotivasi siswa untuk terus belajar dengan harapan hasilnya terus meningkat.

  1. Pujian

Apabila ada siswa yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu diberikan pujian. Pujian ini merupakan bentuk reinforcement positif sekaligus menjadi motivasi yang baik. Oleh karena itu, agar pujian ini menjadi motivasi, pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.

  1. Hukuman

Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak, dapat menjadi alat motivasi. Karena itu guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman.

  1. Hasrat untuk belajar

Hasrat untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini lebih baik bila dibandingkan segala sesuatu kegiatan tanpa maksud. Hasrat belajar berarti bahwa pada diri siswa memang ada motivasi untuk belajar, sehingga hasilnya akan lebih baik.

  1. Minat

Motivasi sangat erat kaitannya dengan unsur minat. Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat, sehingga tepatlah jika minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar akan berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Mengenai minat ini antara lain dapat dibangkitkan dengan cara-cara berikut.

  1. Membangkitkan adanya suatu kebutuhan.
  2. Menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau.
  3. Memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik.
  4. Menerapkan berbagai macam metode pembelajaran.
  5. Tujuan yang diakui

Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa akan merupakan alat motivasi yang cukup penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai (karena dirasa sangat berguna dan menguntungkan), maka akan menimbulkan gairah untuk terus belajar.

Di samping bentuk-bentuk motivasi sebagaimana diuraikan di atas, tentunya masih banyak bentuk dan cara yang bisa dimanfaatkan. Yang penting bagi guru adalah bagaimana memanfaatkan dan mengembangkan berbagai bentuk motivasi yang ada agar dapat mencapai hasil belajar yang bermakna.

 

Raudatul Janah

Untuk menjawab pertanyaan Janah, kita harus mengetahui terlebih dahulu pengertian insting itu sendiri. Insting adalah suatu pola perilaku dan reaksi terhadap suatu rangsangan tertentu yang tidak dipelajari tapi telah ada sejak kelahiran suatu makhluk hidup dan diperoleh secara turun-temurun (filogenetik). Jadi motivasi primer yang didasarkan insting itu adalah motivasi yang hadir dibawah okerja otak sadar manusia.  Freud berpendapat insting memiliki empat ciri, yaitu:

  1. tekanan, tekanan adalah kekuatan yang memotivasi individu untuk bertingkah laku.
  2. Sasaran, sasaran insting adalah kepuasan atau kesenangan, kepuasan tercapai apabila tekanan energi pada insting berkurang.
  3. Objek, objek insting adalah hal-hal yang memuaskan insting, hal-hal yang memuaskan insting tersebut dapat berasal dari luar individu atau dari dalam individu.
  4. Sumber, sumber insting adalah keadaan kejasmanian individu. Insting manusia dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
    1. Insting kehidupan (life instincst), bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup seperti makan, minum, istirahat, dan memilihara keturunan.
    2. Insting kematian (death instincst), tertuju pada penghancuran.

Harmah

Menurut pendapat kami, motivasi ekstrinsik itu bisa memoengaruhi siswa dalam kegiatan belajar mengajar karena dengan guru memberikan hadian untuk siswa-siwa yang berprestasi. Hal ini akan sangat memacu siswa untuk lebih giat dalam berprestasi, dan bagi siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk mengejar atau bahkan mengungguli siswa yang telah berprestasi. Hadiah di sini tidak perlu harus yang besar dan mahal, tapi bisa menimbulkan rasa senag pada murid, sebab merasa dihargai karena prestasinya. Kecuali pada setiap akhir semester, guru bisa memberikan hadiah yang lebih istimewa (seperti buku bacaan) bagi siswa ranking 1-3. Dan juga sangat penting,agar siswa dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya.

 

Kusniati Andriani

a.Motif atau Kebutuhan Organis,

Meliputi kebutuhan untuk makan, minum, bernafas, seksual, dan kebutuhan untuk beristirahat.

b.Motif Darurat

Yang termasuk dalam jenis ini antara lain, dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, dan untuk berusaha. Jelasnya motivasi ini timbul karena rangsangan dari luar.

c.Motif Objektif

Dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan, memanipulasi, untuk menaruh minat. Motif ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.

Laili Hidayati

Seperti yang kita ketahui, peserta didik akan senang dengan kegiatan yang memberikan mereka peluang untuk bereprestasi, dari sekian banyak motivasi yang dipaparkan oleh kelompok 3, yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana cara kita sebagai calon pendidik untuk memberikan motivasi antara pembelajaran yang ada dikelas dengan prestasi yang mereka peroleh dari luar kelas agar keduanya bisa seimbang, “jika kasusnya saat itu, peserta didik lebih dominan mementingkan prestasi diluar yang tidak ada kaitannya dengan interaksi belajar mengajar di sekolah”.

Cara memberikan motivasi bagi kasus tersebut ialah dengan cara Motif-motif objektif. Dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan penipulasi, untuk menaruh minat. Agar peserta didik bisa termotivasi dalam hal pembelajaran dikelas, tidak hanya yang mereka peroleh dari luar kelas saja.

Ahmad Jamaludin

Menurut kami, seorang yang mempunyai kekurangan (penyandang autis) masih mempunyai motivasi untuk belajar. Walaupun dalam kehidupan sekitarnya dia selalu diejek. Seorang yang penyandang autis biasanya minat atau motivasi yang dimilikinya sangat tinggi dibandingkan kita yang normal. Karena dari ejekan dan hinaan yang dia dapat justru membantu semangatnya untuk lebih baik dari pada yang normal. Seperti kita lihat diTV, banyak sekali para penyandang autis yang berhasil dalam bidang ilmiah ataupun olahragawan. Jadi seorang yang mempunyai kekurangan (penyandang autis) motivasinya yang dimiliki sangat tinggi dalam proses belajar. Hanya saja tergantung pada penderita tersebut.

Motivasi yang cocok untuk si penyandang autis yaitu motivasi yang dilihat dari dasar pembentukannya. Kita harus melihat dulu dasar pembentukan si penyandang autis tarsebut. Dari situ kita dapat mendorong untuk lebih baik.

 

Hayatul Mursyda

Menurut kami, motif bawaan dan motivasi primer tidak jauh-jauh beda. Hanya saja motivasi bawaan dilihat pada dasar pembentukannya, sedangkan motivasi primer dilihat dari biologisnya atau jasmaninya. Kalau kita lihat motivasi bawaan itu seperti suatu dorongan untuk makan dan minum. Dan motivasi primer itu seperti bentuk fisik dan kesehatannya.

Seseorang yang membutuhkan uang dan kemudian termotivasi untuk mencuri itu salah satu motivasi bawaan. Karena dalam dirinya terdorong untuk niat yang tidak baik. Seperti seorang yang terdorong untuk makan dan minum agar bisa hidup, begitu juga si pemuda tersebut. Dia terdorong untuk mencuri karena sangat membutuhkan uang. Tapi alangkah baiknya suatu motivasi itu jangan di lakukan dalam hal yang negatif.

  1. Menjawab pertanyaan Neggar. Kami setuju dengan jawaban kelompok 2 tentang tujuan akhir yang bersifat politis itu adalah tujuan yang ditetapkan sebagai peraturan atau undang-undang. Indonesia sendiri telah menerapkan dasar, tujuan dan sistem pendidikan nasional secara umum, yakni Pendidikan Nasional Pancasila. Misalnya lembaga pendidikan tinggi, lembaga pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah, pendidikan angkatan bersenjata, kejuruan dan sebagainya.
  2. Mengenai pertanyaan M. Fathurrahman tentang bagaimana cara seorang guru mengatasi seorang anak didik, kalau seoerang anak didik tidak bisa memahami sama sekali disaat guru mengajar. Kami setuju dengan jawaban yang telah dikemukan kelmpok 2 serta Kusniati Andriani. Kami hanya ingin menambahkan, dalam proses belajar mengajar memang sudah ada kurikulum yang menjadi panduan seorang guru dalam memberikan materi. Mengenai kurikulum dan materi pelajaran ini memang sudah seharusnya menjadi panduan yang mesti diikuti. Akan tetapi, dalam pelaksanaan yang berkaitan dengan komunikasi dan cara seorang guru menyampaikan materi pelajaran sangat dibutuhkan kemampuannya memahami anak didik secara langsung. Di sinilah dibutuhkan seorang guru yang mempunyai perhatian kepada anak didiknya bahwa mereka juga anak manusia yang mempunyai perasaan yang butuh dipahami. Bila hal ini dilakukan dengan baik, maka seorang guru akan dicintai oleh murid-muridnya.
  3. Nordin, Maksud dari menentukan suatu tujuan dan hasil akhir menggunakan pedoman pendidikan yang cenderung bersifat filosofis dan politis ialah yang bersifat filosofis yaitu tujuan pendidikan yang bersifat memanusiakan manusia, atau mengantarkan anak didik untuk dapat menemukan jati dirinya. Sedangkan tujuan akhir yang bersifat politis adalah tujuan yang ditetapkan sebagai peraturan atau undang-undang.
  4. Hamid, Menurut kami Apabila seorang guru sudah memberikan pengajaran atau pengarahan yang baik kepada anak didiknya namun ada beberapa anak didiknya yang tidak memahami dan selalu membuat keonaran, pada akhirnya guru tersebut berhenti mengajar di kelas peserta didik tersebut. Itu sebenarnya bisa dikatatakan tidak professional, karena guru tersebut tidak bisa mengontrol emosi. Seharusnya guru tersebut bisa melihat situasi dan keadaan, tidak seharusnya langsung keluar ,sebab apabila langsung keluar, maka angggapanp eserta didik menjadi bingung dan takut.Guru bisa saja memberikan tugas dahulu sebelum keluar agar tetap terlihat professional sebagai guru. Sebagai guru seharusnya mencontohkan yang baik kepada peserta didik agar menjadi panutan yang baik.

Tujuan intermedier adalah tujuan yang merupakan alat untuk mencapai tujuan yang lebih lanjut; seperti halnya: menguasai bahasa inggris agar dapat mempelajari berbagai ilmu pengetahuan yang ditulis dalam bahasa inggris. Pada tujuan intermedier sebagai motivasi operasional yaitu pada setiap kurikulum menjadikan pedoman praktis dalam upaya melaksanakan tercapainya tujuan pengajaraan didalam kurikulum dibuat pedoman khusus misalnya silabus,rencana pengajaran dan lain-lain. Dengan cara demikian, guru akan memperoleh serangkaian tujuan yang relatif lebih mudah untuk dicapai dan dinilai

Setiap sarana dan kegiatan yang sifatnya mendidik selalu mempunyai tujuan tertentu, tujuan tersebut ada yang bersifat umum (TUP/TIU) dan khusus (TKP/TIK). Jika dikaitkan dengan konteks pendidikan sekarang rumusan tersebut harus dirumuskan secara operasional yaitu dengan syarat-syarat sebagai berikut.

  • Secara Spesifik menyatakan perilaku yang akan dicapai
  • Membatasi dalam keadaan mana perubahan perilaku diharapkan dapat terjadi (kondisi perilaku).
  • Menyatakan kriteria perubahan perilaku secara spesifik, artinya menggambarkan standar minimal perilaku yang dapat diterima sebagai hasil yang dicapai.
    TIK adalah wakil dan TIU, maka perbuatan TIK harus berpedoman pada TIU. Indikator suatu TIU banyak namun handaknya dipilih yang betul-betul penting sehingga dapat mewakili TIU. Dapat diilustrasikan sebagai berikut

Berdasarkan pada indikator terpilih tersebut diatas dapat dirumuskan sejumlah TIK dan TIU yang bersangkutan.

Tujuan menguasai Aspek Kebahasaan , Siswa mampu membuat kalimat Simple Present minimal 10 kata kerja dengan tepat dan benar Bila TPK tersebut dianalisa dapat diketahui unsur- unsur berikut :

Audience         : Siswa

Behaviour       : Dapat membuat kalimat Simple Present

Condition        : Dengan menggunakan 10 kata kerja

Degree              : Dengan tepat dan benar

Contoh suatu peristiwa yang terikat pada tujuan dalam proses kegiatan belajar-mengajar adalah dengan teknik rangsang gambar melalui menulis puisi. Karena menulis puisi merupakan kegiatan aktif dan produktif. Dikatakan aktif karena dengan menulis puisi seseorang telah melakukan proses berpikir, sedangkan dikatakan produktif karena seseorang dalam menulis puisi akan menghasilkan sebuah tulisan yang dapat dinikmati oleh orang lain. Dengan menulis puisi seseorang dapat mengungkapkan ide, mengekspresikan gagasan, pengetahuan, perasaan, dan pengalaman-pengalaman hidupnya ke dalam bahasa tulis. Oleh karena itu dapatlah kita praktikkan dengan teknik rangsang gambar peristiwa yaitu dengan memanfaatkan gambar-gambar peristiwa dari berbagai media, baik cetak maupun visual. Peristiwa-peristiwa yang tersiar di berbagai media tentu ada yang mampu mengusik perasaan peserta didik. Misalnya, perang di Afghanistan, bencana tsunami, banjir dan tanah longsor, kerusuhan demonstrasi, dan sebagainya. Dengan kegiatan belajar yang seperti itu kita dapat melihat suatu yang terikat antara suatu peristiwa dengan kegiatan belajar-mengajar.

Proses interaksi edukatif adalah suatu proses yang mengandung sejumlah norma. Semua norma itulah yang harus guru transfer kepada anak didik. Interaksi edukatif sebagai jembatan yang menghidupkan persenyawaan antara pengetahuan dan perbuatan, yang mengantarkan kepada tingkah laku sesuai dengan pengetahuan yang diterima anak didik.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa interaksi edukatif adalah hubungan dua arah antara guru dan anak didik dengan sejumlah norma sebagai mediumnya untuk mencapai tujuan pendidikan. Belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai normatif. Belajar mengajar adalah suatu proses yang dilakukan dengan sadar dan bertujuan.

Ada tiga bentuk komunikasi antara guru dan anak didik dalam proses interaksi edukatif, yakni komunikasi sebagai aksi, komunikasi sebagai interaksi, dan komunikasi sebagai transaksi. Komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah menempatkan guru sebagai pemberi aksi dan anak didik sebagai penerima aksi. Guru aktif, dan anak didik pasif.Dalam komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah, guru berperan sebagai pemberi aksi atau penerima aksi. Demikian pula halnya anak didik, bisa sebagai penerima aksi, bias pula sebagai pemberi aksi. Antara guru dan anak didik akan terjadi dialog. Dalam komunikasi sebagai transaksi atau komunikasi banyak arah, komunikasi tidak hanya terjadi antara guru dan anak didik. Anak didik dituntut lebih aktif daripada guru, seperti halnya guru, dapat berfungsi sebagai sumber balajar bagi anak didik lain.

Nama anggota kelompok 8

1. NORHALIMAH                            A1B110239

2. NANI MARLIANI                     A1B110222

3. ENDANG PUSPITA RINI    A1B110214

4. DESI KEMALASARI              A1B110234

5. SUSILAWATI                           A1B110250

Welcome to Blog.com.

This is your first post, produced automatically by Blog.com. You should edit or delete it, and then start blogging!